Selasa, 04 Oktober 2022
Selasa, 08 Maret 2022 16:08

Pengamat Militer Indonesia Angkat Bicara Soal Penyebab Rusia Serang Ukraina, Begini Penjelasannya

Pengamat Militer Indonesia Nagkat BIcara Soal Penyebab Rusia Serang Ukraina - Ilustrasi Foto Kondisi Ukraina/You Tube
Pengamat Militer Indonesia Nagkat BIcara Soal Penyebab Rusia Serang Ukraina - Ilustrasi Foto Kondisi Ukraina/You Tube

VERSIINDONESIA.COM - Satu di antara pengamat militer Indonesia. Connie Rahakundini Bakrie angkat bicara soal penyebab Rusia menyerang Ukraina.

Apa penyebab perang Rusia dan Ukraina pun dikupas Connie dari awal, karena menurutnya penyebabnya sudah lama Rusia menyimpan dendam.

Connie pun menyebut salah satu penyebab Rusia serang Ukraina atau penyebab perang Rusia dan Ukraina adalah tidak lepas dari ketegangan antara Rusia dan Barat dalam hal ini NATO.

Baca Juga: 3 Resep Dapur Ampuh untuk Sembuhkan Sinus 

Sejak Ukraina yang dekat dengan NATO bahkan digadang gadang akan masuk NATO menjadi gerah Rusia karena negara tersebut bertetangga.

Rusia tidak ingin bila NATO mencengkram Ukraina karena kedepan akan mengancam Rusia. Bisa saja rudal-rudal NATO nanti ditempatkan di Ukraina.

Menurut Connie seperti dikutip dari kanal Youtube Helmi Yahya Bicara disebutkan bahwa Rusia memberi pelajaran saja kepada Amerika Serikat dan NATO bahwa dunia itu nggak boleh di rajai oleh satu orang atau satu negara saja atau satu kelompok saja.

Baca Juga:   5 Tips Mengatasi Stres di Masa Kehamilan 

Menurut pengamat militer Connie, ketika Rusia menyerang Ukraina itu karena sudah kelewat kesal. Menurut Connie wajar kesal karena sudah berlangsung kasusnya sejak tahun 2008.

"Kasus Uni Soviet jatuh dan pecah kemudian Lithuania dan Latvia diambil NATO atau masuk ke dalam NATO enggak apa apa karena jauh, tapi Ukraina kan deket, tapi pada tahun 2008 malah Ukraina dan Georgia diundang NATO untuk masuk, nah disitu awal kisruh, Putin sudah bilang jangan," katanya.

Bahkan pada saat itu menurut Connie, sudah mewanti waktu AS agar hati hati. "Bayangin saja posisi Putin saat itu, kalau Putin masuk Mexico lalu taro rudal di Kanada perasaanmu seperti apa, itu kata Putin, nah itu seperti posisi NATO ambil Ukraina," katanya.

Baca Juga: Hari Ini Selasa 8 Maret 2022 Crazy Rich Doni Salmanan Diperiksa Soal Penipuan Berkedok Trading

Kemudian kedua menurut Connie memang sejarah Uni Soviet dan Ukraina memang asalnya dari Kief pada abad 9, jadi akarnya sama dari Kiev.

"Jadi makanya ketika jadi Uni Soviet, Moskow sebagai kota pertama, dan Kiev kota kedua. Saat itu semua hulu ledak nuklir reaktor nuklir semuanya berada di Kiev," katanya.

Jadi sebenarnya Kiev dan Moskow memang kota yang penuh sejarah dan penuh cerita histori Rusia sehingga Rusia tidak mau tiba tiba Ukraina masih menjadi anggota NATO.

Baca Juga: Daftar Obyek Wisata di Makassar Yang Wajib Dikunjungi

Menurut Connie sebelum 1990, orang-orang Ukraina dan Rusia bersatu dalam sebuah negara federasi bernama Uni Soviet. Negara komunis yang kuat di zaman itu.

Namun menurut Connie, pada 1991, Uni Soviet dan Pakta Warsawa bubar dan Ukraina memerdekakan diri dari Uni Soviet.

Presiden Rusia Boris Yeltsin pada tahun itu, menyetujui hal tersebut. Selanjutnya Rusia, Ukraina dan Belarusia membentuk Commonwealth of Independent States (CIS).

Pada Mei 1997, Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian persahabatan. Hal tersebut adalah upaya untuk menyelesaikan ketidaksepakatan.

Rusia diizinkan untuk mempertahankan kepemilikan mayoritas kapal di armada Laut Hitam yang berbasis di Krimea Ukraina. Rusia pun harus membayar Ukraina biaya sewa karena menggunakan Pelabuhan Sevastopol.

Hubungan Rusia dan Ukraina memanas lagi sejak 2014. Kala itu muncul revolusi menentang supremasi Rusia.

Saat itu menurut Connie, massa antipemerintah berhasil melengserkan mantan presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych.

Revolusi juga membuka keinginan Ukraina bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO.  Dari situlah menurut Connie, Putin marah karena prospek berdirinya pangkalan NATO di sebelah perbatasannya.

Saat presiden Ukraina, Yanukovych digulingkan, Rusia mengambil kesempatan mencaplok Krimea di 2014. Rusia juga mendukung separatis di Ukraina timur, yakni Donetsk dan Luhansk, untuk menentang pemerintah Ukraina.

Putin akhirnya membulatkan diri untuk melakukan serangan sejak November 2021 dengan menempatkan pasukannya di perbatasan Ukraina.

Presiden AS Joe Biden sempat memperingatkan Rusia bila menyerang maka akan ada sanksi ekonomi.

Namun rupanya tidak digubris dan Rusia malah melakukan latihan besar besaran pada awal 2022. Hingga akhirnya pada 24 Februari 2022 serangan itu benar benar dilakukan hingga sekarang.(*)

Author:

Dika Aryana

Editor:

Dika Aryana

Sumber:
YouTube Helmi Yahya Bicara
X