Senin, 03 Oktober 2022
Rabu, 15 Juni 2022 03:50

International Palestinian Forum for Media and Communication Gelar Webinar Bahas Upaya Cegah Impunitas Israel

VERSIINDONESIA.COM-International Palestinian Forum for Media and Communication Gelar Webinar Bahas Kasus Pembunuhan Shireen Harus Diproses Di Mahkamah International sebagai upaya cegah impunitas Israel pada Selasa (14/6). Acara tersebut  membahas tentang wacana impunitas Israel terhadap  kasus pembunuhan Shireen Abu Akleh Jurnalis Aljazeera beberapa waktu lalu. Impunitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni keadaan tidak dapat dipidana, nirpidana.

Kasus Pembunuhan wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh diajukan ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice) sebagai upaya tidak adanya impunitas atau kekebalan terhadap tindakan Israel. Dengan pengajuan ini diharapkan pelaku penembakan dari pihak Israel dapat diseret ke pengadilan. Proses hukum diajukan juga untuk melindungi wartawan saat liputan pemberitaan Palestina.

webinar internasional Mencegah Ancaman terhadap Jurnalis dalam Liputan Berita Palestina berlangsung secara virtual. Webinar ini diselenggarakan International Palestinian Forum for Media and Communication, organisasi media independent yang berpusat di Istanbul, Turki. Anggota dari forum ini antara lain berasal dari Palestina, Turki, Yordania, Qatar, Inggris dan Amerika Serikat. 

Ahmad Al Sheikh selaku Sekjen International Palestinian Forum Ahmad dari Doha, Qatar menyatakan bahwa pihak Al Jazeera melanjutkan pengaduan ke Mahkamah Internasional dalam kasus pembunuhan wartawannya Shireen Abu Akleh. Shireen meninggal oleh penembak jitu Israel saat liputan di Jenin, Tepi Barat pada 11 Mei 2022 lalu. Kasus meninggalnya Shireen menjadi perhatian dunia terkait perlindungan wartawan saat liputan berita di Palestina.

Menurut Al Sheikh, tindakan Israel terhadap wartawan dilakukan meskipun banyak protes dari seluruh dunia karena adanya kekebalan yang dimiliki Israel dari tuntutan internasional. Oleh karena itu meskipun korban berjatuhan karena Israel, aksi protes harus tetap dilakukan masyarakat pers dunia.

Webinar  tersebut dimoderatori Asep Setiawan selaku anggota Dewan Pers 2019-2022 dan  Dosen di Magister Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Asep menyimak pandangan Shefaa Saleh dari Friends of Palestine Network in Southeast Asia.

Sheefa menjelaskan PBB telah menjamin kebebasan pers sehingga jurnalis dapat melakukan aktivitasnya. Namun kebebasan pers di Palestia sangat dikekang oleh Israel. Israel melakukan pembatasan terhadap aktivitas pers yang tidak wajar. Israel juga melakukan tindakan diluar batas kemanusiaan termasuk penyerangan terhadap wartawan. Sheefa mengatakan sejak 2015 lebih dari 110 jurnalis mengalami pembatasan Israel mulai larangan liputan sampai perampasan alat kerjanya.

Wartawan Metro TV Desi  Fitriani turut hadir dalam Webinar ini. Desi selaku wartawan yang pernah meliput ke Palestina tepatnya di jalur Gaza menjelaskan bahwa dalam liputan konflik seperti di Palestina perlu persiapan sendiri.

Persiapan itu dimulai dari mengetahui para pihak yang terlibat konflik. Namun demikian Desi mengakui bahwa perlindungan hukum terhadap kerja jurnalis ini tidak selamanya dapat dijamin. Desi mencontohkan bagaimana ketika meliput di wilayah Jalur Gaza ancaman Israel selalu hadir.

Sementara itu  wartawan senior Republika Yeyen Rostiyani menjelaskan bahwa kekerasan terhadap wartawan ini terjadi dimana-mana. Berdasarkan catatan Unesco antara 2006 sampai 2020 lebih dari 1.200 wartawan terbunuh. Namun demikian sembilan dari sepuluh kasus itu para pelaku kejahatannya tidak dihukum.

Author:

Nur Khalifah

Editor:

Nur Khalifah

Sumber:
Rilis Berita
X